TASHGHIR ( تَصْغِيْـرٌ

 TASHGHIR ( تَصْغِيْـرٌ ) [1]


 


A. PENGERTIAN TASHGHIR


Tashghir (pengecilan) yaitu perubahan yang terjadi pada isim mu’rob dengan cara mendhommah huruf pertama dan memfathah huruf kedua serta menambahkan “ya’ sukun” yang disebut dengan ya’ tashghir.


    مثاله :       -  جَبَلٌgunung  -->  جُبَيْلٌgunung kecil 


                  -  رَجُلٌlaki-laki  -->  رُجَيْلٌlaki-laki kecil 


 


B. SYARAT-SYARAT TASHGHIR


Syarat-syarat lafazh yang bisa ditashghir yaitu : 


1. Isim


Maka fi’il dan huruf tidak bisa ditashghir. Adapun tashghir yang terjadi pada fi’il ta’jub maka hukumnya syadz (keluar dari kaidah/qiyas).


2. Isim Mutamakkin/Mu’rob


Maka tidak boleh mentashghir isim mabni seperti isim maushul/isim isyaroh. Tashghir yang terjadi pada isim-isim tersebut adalah syadz.


Seperti :  الَّذِيْ  -->  اللّذَيَّا     الَّتِـيْ  -->  اللّتَيَّ     ذَا  -->  ذَيَّا             تَا  -->  تَيَّا


3. Isim yang bisa menerima arti tashghir


a.  Maka tidak ditashghir lafazh yang memiliki arti besar/agung seperti كَبِيْرٌ، جَسِيْمٌ، عَظِيْمٌ (yang besar/agung) dikarenakan tashghir pada lafazh-lafazh seperti ini bertentangan dengan arti/tujuan tashghir.

b.  Juga tidak ditashghir lafazh yang memiliki arti tinggi/agung/dihormati seperti nama-nama Allah l, nama-nama para Nabi dan Rosul-Nya, kitab-kitab-Nya dan nama-nama Masjid.


4. Isim yang lafazhnya tidak mencocoki wazan-wazan tashghir atau yang menyerupainya.


Maka tidak boleh ditashghir untuk isim-isim yang lafazhnya mencocoki wazan-wazan tashghir atau menyerupainya, seperti :


-  كُمَيْتٌ      : kuda yang berwarna merah kehitaman


-  كُعَيْتٌ     :    burung bulbul              


-  مُبيْطِرٌ     :    pemasang ladam/tapal kuda


-  مُهَيْمِنٌ     :    yang mengawasi/menjaga        


-  مُسَيْطِرٌ  :yang memberi kuasa/menguasai 


 


C. TUJUAN/FAIDAH  TASHGHIR


Menurut ulama Basroh tashghir memiliki 4 fungsi, [2] yaitu :


1. Untuk mengecilkan perkara yang diduga/dianggap besar.


    مثاله :       -  جَبَلٌ(gunung)   -->  جُبَيْلٌ(gunung kecil)


          -  بَقَـرٌ(sapi)         -->  بُقَـيْـرٌ(sapi kecil)


          -  ثَـوْبٌ(pakaian)  -->  ثُـوَيْبٌ(pakaian kecil)


2. Untuk merendahkan/meremehkan perkara yang diduga/dianggap agung derajatnya.


    مثاله :       -  رَجُلٌ(laki-laki)  -->  رُجَيْلٌ (laki-laki kecil/hina) 


3. Untuk menyedikitkan jumlah yang diduga/dianggap banyak.


    مثاله :       -  دِرْهَـمٌ(dirham)  -->  دُرَيْـهِمٌ(dirham yang sedikit) 


4. - Untuk mendekatkan waktu yang dianggap lama.


    مثاله : -  قَبْلَ(sebelum)  -->  قُبَيْل العَصْرِ(sesaat sebelum/menjelang ashar) 


           -  بَـعْدَ(sesudah)  -->  بُعَيْد المَعْرِبِ(sesaat sesudah/segera sesudah maghrib)


   - Untuk mendekatkan jarak/tempat yang dianggap jauh.


    مثاله : -  فَوْقَ(di atas)    -->  فُوَيْق هذا(sedikit di atas ini) 


           -  دُوْنَ(di bawah)-->  دُوَيْن ذَاك(sedikit di bawah itu)


   - Untuk mengecilkan atau merendahkan kedudukan.


    مثاله : -  أَصْغَرُ(lebih kecil)  -->  أُصَيْغِرُ مِنْكَ(aku lebih kecil dari kamu) 


           -  صَدِيْقِيْ(temanku) -->  صُدَيِّقِيْ(teman kecilku)


Ulama Ahli Kuffah menambahkan satu faidah yang kelima yaitu :


-  “لِلتَّعْظِيم” untuk menganggap besar suatu perkara.


   Contohnya lafazh :       (bencana besar)   -->  دُوَيْهِيَةٌ (bencana) - دَاهِيَةٌ 


Menurut ulama ahli Kufah bencana besar.


Seperti pada syair mereka :


كُلُّ أُنَاسٍ سَوْفَ تدْخُلُ بَيْنَهُمْ            دُوَيْهِيَةُ تَصْفَرُ مِنْهَا أَنَامِلَ 


“Bencana besar (kematian) kelak menimpa setiap manusia dimana kuku/jari-jemari mereka akan pucat.”


Menurut ulama Ahli Bashroh menta’wil/menafsirkan دُوَيْهِيَة di atas adalah untuk tahqir (mengecilkan/merendahkan), artinya bencana kecil, dikarenakan kematian bisa terjadi karena hal yang sepele/bencana ringan.


Catatan :


-   Al-Farodhi menambahkan :


1)  Litahabub/untuk kecintaan (للتَحَبُّب)


  Contohnya  :  wahai anakkuيَا بُنَيَّ 


2)  Litarahum/untuk belas kasihan (للتَرَحُم)


  Contohnya  :  wahai orang miskin [يَا مُسَيْكِيْنُ [3


Cat. Kaki 

[1]   Syarah Alfiyah Ibnu ‘Aqil dan Hasyiyah al-Hudhori : 2/839-850 ;  Syarah Alfiyah Asymuni dan Hasyiyah Shoban : 4/218-248 , Jami' ad-Durus : 2/84-95 (dengan perubahan, diringkas)


[2] Syarah Alfiyah Asymuni : 706-707


[3] Syarah Alfiyah Asymuni dan Hasiyah Shoban : 4/221


(Dinukil dari buku al Mumti' fi ilmit tashrif, hal : 116-118 masih tersisa beberapa halaman utk bab tashgir,nantikan pada pembahasannya insyaa Alloh)


Http://Telegram.me/Ilmushorf

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url